Di minggu sore, selepas ibadah dan melakukan kegiatan pelayanan sebentar di gereja, aku akhirnya pulang bersama dengan motor pinjaman dari kawan seasrama. Ketika dalam perjalanan, aku sudah mengeluh mengenai cuaca kota ini yang sudah seperti perokok berat yang terbatuk batuk dibawah awan karbon.
Sementara kedua tangan ku berpegangan pada batang kemudi, kulaju
motor pinjaman ini dengan kecepatan 30 km/jam. Pikirku, aku ingin menikmati perjalanan
sore ini sendiri dengan khusyuk.
Sesekali kutengok kearah samping, melihat pengendara lain
yang melaju dengan kecepatan yang lebih dari 70km/jam. Aku tak akan mengira,
bahwa suasana libur lebaran ini akan semacet dan semacet ini.
Wajar saja sih, besok mereka sudah merayakan lebaran bersama keluarga, banyak yang pulang ke kampung halaman untuk sekedar berpeluk sapa dan bermaaf-maafan. Walau tahu, para perantau akan dihujani dengan pertanyaan “Bang, Om, Kak, Tante, minta THR…” oleh keponakan yang mungkin masih berumur 8 tahun, dan si perantau akan menjawab dengan wajah sedikit bersedih untuk memoles si keponakan, “belum ada uang ya, lebaran depan abang kasih ke adek buanyakk, segini (sambil menjengkal tangan menggambarkan ketebalan uang).
Aku rasa pertanyaan ini tak cukup sampai disini saja, Ketika
berkumpul dengan sanak keluarga, ada ada saja pertanyaan yang kadang mengenakkan
di dengar dan juga kadang membuat mulut seperti menggigit daun sambiloto.
Misal jika bertemu dengan tetangga, basa basi paling populer, “Mas, darimana? Udah kerja ya? Kerja Dimana?”, “maaf bu, saya masih kuliah”, mungkin jawabnya begitu. Para mahasiswa pasti bangga dengan pertanyaan ini, bagaimanapun yang kuliah masih bisa membanggakan diri disbanding dengan mereka yang hanya duduk di rumah bersama orang tua nya siang dan malam.
“saya kuliah disini bu, dan sudah (atau masih) semester ini ….”.
aku Kembali mengira-ngira bagaimana jawaban para perantau ini.
“oh iya, ngambil jurusan apa?”, pasti tanya tetangganya itu
nanti agar pembicaraan tidak mati begitu saja.
Terkadang aku bingung untuk menjawab pertanyaan ini, simple tapi terkadang juga rumit. Orang tua yang hanya mengetahui jurusan ilmu hukum, keguruan, Teknik mesin, pertaninan, peternakan, atau kedokteran, atau sejenis jurusan lain yang menjadi bahan perbincangan ibu ibu di arisan. Jika kuliah pada jurusan itu, aku bisa jamin bahwa reaksi ibu ibu akan “wah, nanti mau kerja Dimana, bla bla bla…”
Tapi yang menjadi masalah adalah Ketika jurusan ini adalah
jurusan yang tidak populer, tidak pernah di dengar, tidak ada unsur PNS PNS
nya. Misalnya, Robotika, (FYI ini adalah jurusanku saat ini), Ketika itu aku
baru saja masuk jurusan ini dan ada seorang tetangga datang dan bertanya (aku
rasa dia basa-basi), “kamu tahun ini kuliah ya? Jurusan apa?”, “robotika
nantulang”, jawabku singkat. Alisnya yang sebelah sedikit terangkat bersamaan
dengan pupil matanya sedikit keatas, mungkin beliau ini sedang berpikir,
pikirku. “Kamu mau buat robot ya?”, “bang, robot kayak transpormers?”, tambah
anaknya yang tadi entah kemana tiba tiba muncul seperti superman.
Dahlah kubiarkan saja pertanyaan itu hilang, bak ditelan air
menguap Kembali kepada awan.
atau pertanyaan, seperti “kamu kapan nikah, udah umur segini
lohhh”. Yaps, untuk abang-abang yang kumis dan jenggotnya sudah kelihatan rimbun,
jangan salahkan mereka yang bertanya atau aku juga sering mempertanyakannya. Ini
sudah seperti tradisi, jika bertemu dengan orang yang lebih tau atau sudah kelihatan
tua. Paling paling jawabnya singkat sambil cengingiran, “ yah gini lah dulu bu,
masih nunggu jodohnya”. Mungkin kalau yang ditanya sudah tampak tidak nyaman, si
penanya bakalan nambah sendiri pertanyaannya dengan kalimat penyemangat, “Nggak
apa-apa, Siti Khadijah aja ketemu Rasulullah di usia 45 tahun, lho”
Kembali kekeadaanku, ternyata titik demi titik air sudah
terjun bebas dari awan menuju tanah. Semakin deras setiap kali aku melaju. Hingga
akhirnya, seluruh pakaianku basah kuyup.
Tak beberapa lama, aku tiba di hunianku. Aku memarkirkan
motor pinjaman ini ditempat asalnya dengan helmnya juga. Lalu kuganti pakaian ku
dengan kain baru yang lebih hangat, dan tak lupa sebelum istirahat aku
membuatkan secangkir minuman penghangat ala ibu ibu desa.
Tak kusambung lagi cerita dilamunanku tadi, aku harap ada
yang menyambungnya lagi dengan cerita menarik di lebaran kali ini.
Aku minta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan teks
cerita ini, sebelumnya aku ingin menulis cerita pendek dengan topik lain tapi
entah kenapa aku menulisnya menjadi pertanyaan pertanyaan sewaktu lebaran. Aku rasa
ini menarik. Mungkin juga tidak, aku tidak tahu.
Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir. Selamat merayakan
hari raya idul Fitri 1446 H bagi saudara-saudara yang merayakan. Jalin terus
silaturahmi dan jangan sampai terputus. Salam toleransi.